25/04/10
aslimadura store
Email: aslimadura@ymail.com
Jenis Bisnis : Oleh-oleh
Keterangan: Kunjungi website kami,
Url (jk ada): www.aslimadura.getshopped.com
--
Visitor Ip: 192.168.1.16
14/10/09
Kerajinan Batik Di Tanjung Bumi Bangkalan
Melekatnya batik di masyarakat Kecamatan Tanjung Bumi tak sekadar sebagai pekerjaan semata. Melukis di atas kain itu sudah menjadi semacam kebiasaan yang kini mulai dipacu untuk bersaing dengan industri. Bagaimana cara kerja tradisional membatik di sana?
JIKA membatik jadi pekerjaan, maka upah yang diperoleh dari para pengepul jelas tak cukup. Sebab, untuk selembar batik yang dikerjakan paling cepat sebulan pembatik hanya bisa mendapat upah paling besar Rp 100 ribu. Upah tertinggi itu hanya untuk batik dengan kualitas gambar yang "luar biasa". Kalau untuk batik yang biasa-biasa saja, pembatik hanya bisa mendapat upah Rp 15 ribu.
Di Tanjung Bumi, hampir semua desa jadi lokasi pembuatan batik. Tak heran jika salah satu kecamatan di Bangkalan ini disebut sentra batik.
Koran ini mengunjungi keluarga Masrifah, satu keluarga pembuat, pengepul dan penjual batik. Saat didatangi koran ini Masrifah tengah sibuk mencuci batik yang didapatkannya dari warga sekitar. "Kalau dibuat sendiri tidak mungkin bisa banyak seperti ini. Buat batik itu lama Mas, bisa berbulan-bulan," ujarnya. Membuat batik memang tak boleh terburu-buru. Maklum, membatik masih belum dipandang sebagai pekerjaan, tapi kebiasaan yang dikerjakan sambil santai.
Menurut cerita warga, kebiasaan membatik tumbuh karena wilayah Tanjung Bumi dekat dengan pantai. Berdekatan dengan pantai jelas membuat warga Tanjung Bumi kebanyakan jadi nelayan. Tak seperti bertani, para istri nelayan tak bisa ikut melaut. Mereka hanya menunggu di rumah hingga suaminya datang dari tengah laut.
Nah, di waktu kosong menunggu suami pulang itulah para istri nelayan memanfaatkan waktunya untuk membatik. "Jadi tempatnya membatik itu kadang-kadang di dapur, di kamar tidur, dekat kamar mandi atau di depan tivi," tutur Masrifah.
"Namanya juga untuk mengisi waktu. Kalau ada pekerjaan lain ya batiknya ditinggal," imbuh Masrifah. Kondisi tersebut membuat produksi batik tak bisa ditarget. Selesai berapa pun per hari tetap diterima. Warga yang ikut membatik juga tak bisa diminta cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. "Saya juga punya yang cetak. Kalau yang itu (batik cetak, Red) sehari bisa sepuluh lembar," ungkapnya.
Bagaimana cara kerja warga? Warga yang bisa dan biasa membatik datang ke pengepul untuk mendapatkan kain putih. Tak ada perjanjian kapan batik itu akan selesai. Namun, warga tersebut biasanya menjanjikan kapan dirinya akan menyelesaikan selembar batik itu. "Motifnya kadang mereka minta dari saya. Tapi banyak juga yang kreasinya sendiri. Saya percaya saja, motif yamg digambar pasti bagus," paparnya.
Sekembalinya lembaran batik dari warga, di pengepul lalu menilai motif. Dari sinilah pengepul menentukan berapa upah yang akan dibayarnya untuk selembar batik. "Menilai itu tidak bisa sembarangan. Kasihan orang bikinnya lama," tandasnya.
Berapa per lembarnya? Tidak tentu. Paling murah upah per lembar batik hanya dihargai Rp 15 ribu. Sedangkan batik terbaik dihargai dengan upah sebesar Rp 100 ribu. Luar biasanya, taksiran harga itu tak pernah mendapat protes. Sebab, si pengepul tahu betul bagaimana menghargai hasil kerja orang lain. (*) (Radar Madura / jawapos.co.id)
21/06/09
Produksi Petis Madura
MENEKUNI usaha pembuatan petis asli Madura sudah dilakoni keluarga besar Hj Diya sejak puluhan tahun silam. Kini, usaha yang sudah merambah hampir di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur ini dipimpin Daiman. Pria bergelar sarjana ekonomi ini ditahbiskan sebagai generasi penerusnya.
“Saya hanya penerus yang diberi kepercayaan oleh Ummi (Hj Diya, Red.), dan ini tanggung jawab saya untuk membesarkan usaha keluarga ini,” ujar Daiman.
Berbekal ilmu yang didapat dari orangtuanya tersebut, Daiman berusaha membuat usaha pembuatan petis miliknya makin sukses dan memiliki pangsa pasar yang lebih luas lagi. Tapi bukan hanya itu tujuan utamanya. Soal rasa yang khas juga menjadi perhatian untuk kelangsungan usahanya tersebut.
“Yang saya nomorsatukan adalah kepuasan konsumen dalam hal rasa. Sebab rasa itu mencerminkan kualitas usaha yang kita geluti saat ini,” terangnya.
Setidaknya, ada sekitar 30 jenis pilihan rasa yang ditawarkan oleh Daiman selama ini. Semua jenis rasa itu tidak lain adalah hasil racikan antara rasa asin yang dihasilkan oleh ikan dan manis yang dihasilkan oleh gula serta aroma petis yang dihasilkan oleh rempah - rempah sebagai bumbu campuran. “Diantaranya adalah petis asin, petis asin manis, petis manis pedas, dan asin manis yang ada dicampuri bumbu - bumbu khas,” terang Daiman.
Bahkan, baru - baru ini ia mulai meracik petis rasa baru yang cocok di lidah warga Jawa yang cenderung kurang menyukai rasa asin, layaknya petis khas Madura. “Kalau petis Madura sudah pasti tidak jauh - jauh dari rasa asin. Tapi kalau di lidah orang Jawa, rasa asin ini kurang cocok,” ujarnya.
Pada koran ini kemarin (28/2) Daiman mengajak untuk melihat secara langsung proses pembuatan petis di tempat usahanya tersebut. Sekitar 20 pekerja dilibatkan dalam proses pembuatan petis hingga proses pembungkusan petis dalam kemasan. “Sudah tiga tahun ini kita menggunakan teknologi modern pada proses pengentalannya. Sebab untuk menggunakan tenaga manusia, kita sangat kewalahan,” terang Daiman.
Sejak menggunakan alat - alat yang modern tersebut, praktis proses pembuatan petis lebih higienis dan cepat. Bahkan proses awal dari hasil kukusan ikan hingga proses pengentalan menjadi petis kini hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua hari. “Selain lebih bersih, kalau pakai alat modern jelas lebih cepat. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari 1 ton petis kita hasilkan,” ujarnya yang bisa menjual petis hingga dua kuintal dalam setiap harinya.
Maka jangan heran jika untuk bahan - bahan mentah pembuatan petis - seperti air hasil kukusan ikan pindang, ia memiliki suplier khusus. “Kalau mencari setiap hari, kita pasti akan kelabakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kita datangkan dari orang - orang tertentu,” ujar warga Desa Banyuanyar tersebut.
Kini, produksi petis yang dikenal dengan petis Hj Diya tersebut sudah merambah hampir di berbagai daerah. Bahkan, para TKW (tenaga kerja wanita) maupun TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di negara - negara besar di dunia selalu menyempatkan untuk membeli petis sebelum berangkat lagi ke negeri rantaunya masing - masing. “TKI dan TKW dari Malaysia dan Arab Saudi sudah banyak yang membeli petis kita sebelum kembali bekerja. Umumnya untuk bekal agar tetap mengingat daerah asal Madura,” terang Daiman. (sari purwati/ed)
Sumber : Jawa Pos / Senin, 02 Maret 2009
judul asli: Melihat Sentra Produksi Petis Madura di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Kota Sampang