http://Bisnis-madura.blogspot.com hadir dengan keyakinan bahwa Madura Punya segudang Bisnis. Jika anda pelaku bisnis atau punya informasi bisnis di Madura, anda dapat publikasikan di tempat ini. Kirimkan data yang anda miliki pada kolom di samping kanan, GRATIS!!
Tampilkan postingan dengan label Sampang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sampang. Tampilkan semua postingan

13/12/09

Permintaan Genteng Sampang Stagnan

Sampang - Permintaan Genteng Sampang Stagnan - Pengrajin genteng di Desa Karangpenang Onjur, Kecamatan Karangpenang, Sampang mengaku tidak merasakan imbas dari banyaknya proyek pembangunan di Sampang. Harapan permintaan genteng meningkat tidak dirasakan oleh H Nur, warga Desa Karangpenang Onjur. Padahal, bulan Desember dia yakin adalah bulan di mana permintaan genteng biasa naik.

Nur mengaku hanya satu orang yang mengambil genteng ke pihaknya untuk dibawa ke Sampang. Permintaan lain berasal dari Probolinggo. "Kalau permintaan stagnan, meskipun ada proyek hanya satu orang yang memesan pada saya, itu pun tidak seberapa," terangnya.

Datangnya permintaan genteng selama ini secara kebetulan. Bahkan, untuk memastikan berapa jumlah produksi setiap minggunya dirinya tidak bisa memastikan. "Yang Probolinggo saya dapat pesanan dua belas ribu genteng. Pesanan itu saya dapat saat saya duduk-duduk di tepi jalan dan ada yang bertanya di mana bisa membeli genteng," terang pria yang melakoni bisnis genteng sejak tahun 1983 tersebut.

Dia memperkirakan, setelah bulan ini berakhir maka permintaan genteng akan semakin turun. Selama ini, Nur membuat tiga jenis genteng. Pertama adalah jenis pentol atau karang pilang, kedua adalah jenis Plembeng dan yang terakhir adalah jenis krecek.

Memasuki musim penghujan ini, dia mengaku kesulitan dalam mengeringkan genteng. Pondok tempat mengeringkan genteng sebelum dibakar telah dipenuhi genteng kemarin. Namun, hingga sepuluh hari terakhir, dirinya belum membakar genteng. Beruntung, anaknya juga memiliki usaha berjualan genteng.

Disampaikan, kendala lain yang dihadapinya adalah mengenai biaya produksi yang semakin meningkat. Beberapa komponen produksi sekarang susah dicari dan menyebabkan harganya naik. Komponen itu adalah tanah liat, kayu bakar dan berkurangnya tenaga kerja.

Sebelumnya, tanah yang digunakan untuk genteng dapat diambil dari lokasi yang dekat dengan rumahnnya. Namun beberapa waktu terakhir dirinya harus mengangkut tanah dari lokasi yang jauh dari rumahnya. "Ongkos mengangkut tanah dalam sekali pembakaran bisa mencapai lebih dari Rp 3 juta bahkan sampai Rp 6 juta. Sedangkan kayu bakar sedikitnya Rp 4,5 juta," terangnya. (rif/rd) (jawapos.co.id)

21/06/09

Produksi Petis Madura

MENEKUNI usaha pembuatan petis asli Madura sudah dilakoni keluarga besar Hj Diya sejak puluhan tahun silam. Kini, usaha yang sudah merambah hampir di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur ini dipimpin Daiman. Pria bergelar sarjana ekonomi ini ditahbiskan sebagai generasi penerusnya.

“Saya hanya penerus yang diberi kepercayaan oleh Ummi (Hj Diya, Red.), dan ini tanggung jawab saya untuk membesarkan usaha keluarga ini,” ujar Daiman.

Berbekal ilmu yang didapat dari orangtuanya tersebut, Daiman berusaha membuat usaha pembuatan petis miliknya makin sukses dan memiliki pangsa pasar yang lebih luas lagi. Tapi bukan hanya itu tujuan utamanya. Soal rasa yang khas juga menjadi perhatian untuk kelangsungan usahanya tersebut.

“Yang saya nomorsatukan adalah kepuasan konsumen dalam hal rasa. Sebab rasa itu mencerminkan kualitas usaha yang kita geluti saat ini,” terangnya.

Setidaknya, ada sekitar 30 jenis pilihan rasa yang ditawarkan oleh Daiman selama ini. Semua jenis rasa itu tidak lain adalah hasil racikan antara rasa asin yang dihasilkan oleh ikan dan manis yang dihasilkan oleh gula serta aroma petis yang dihasilkan oleh rempah - rempah sebagai bumbu campuran. “Diantaranya adalah petis asin, petis asin manis, petis manis pedas, dan asin manis yang ada dicampuri bumbu - bumbu khas,” terang Daiman.

Bahkan, baru - baru ini ia mulai meracik petis rasa baru yang cocok di lidah warga Jawa yang cenderung kurang menyukai rasa asin, layaknya petis khas Madura. “Kalau petis Madura sudah pasti tidak jauh - jauh dari rasa asin. Tapi kalau di lidah orang Jawa, rasa asin ini kurang cocok,” ujarnya.

Pada koran ini kemarin (28/2) Daiman mengajak untuk melihat secara langsung proses pembuatan petis di tempat usahanya tersebut. Sekitar 20 pekerja dilibatkan dalam proses pembuatan petis hingga proses pembungkusan petis dalam kemasan. “Sudah tiga tahun ini kita menggunakan teknologi modern pada proses pengentalannya. Sebab untuk menggunakan tenaga manusia, kita sangat kewalahan,” terang Daiman.

Sejak menggunakan alat - alat yang modern tersebut, praktis proses pembuatan petis lebih higienis dan cepat. Bahkan proses awal dari hasil kukusan ikan hingga proses pengentalan menjadi petis kini hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua hari. “Selain lebih bersih, kalau pakai alat modern jelas lebih cepat. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari 1 ton petis kita hasilkan,” ujarnya yang bisa menjual petis hingga dua kuintal dalam setiap harinya.

Maka jangan heran jika untuk bahan - bahan mentah pembuatan petis - seperti air hasil kukusan ikan pindang, ia memiliki suplier khusus. “Kalau mencari setiap hari, kita pasti akan kelabakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kita datangkan dari orang - orang tertentu,” ujar warga Desa Banyuanyar tersebut.

Kini, produksi petis yang dikenal dengan petis Hj Diya tersebut sudah merambah hampir di berbagai daerah. Bahkan, para TKW (tenaga kerja wanita) maupun TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di negara - negara besar di dunia selalu menyempatkan untuk membeli petis sebelum berangkat lagi ke negeri rantaunya masing - masing. “TKI dan TKW dari Malaysia dan Arab Saudi sudah banyak yang membeli petis kita sebelum kembali bekerja. Umumnya untuk bekal agar tetap mengingat daerah asal Madura,” terang Daiman. (sari purwati/ed)

Sumber : Jawa Pos / Senin, 02 Maret 2009

judul asli: Melihat Sentra Produksi Petis Madura di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Kota Sampang

07/06/09

Jambu Air Camplong Buah Unggulan Sampang Madura

Tanaman jambu air camplong hanya ditemukan di daerah Sampang Madura pada pekarangan atau kebun. Tanaman ini mampu memberi penghasilan yang cukup, meski diusahakan dengan teknologi
budi daya yang sangat sederhana. Jika ditanam dengan teknologi budi daya yang lebih baik, dipastikan produksi buah jauh meningkat.

Adapun keterangan selengkapnya adalah sebagai berikut:

Asal : Desa Camplong (Sampang Madura)
Umur tanaman : 10 tahun
Tinggi tanaman : 10-12 m
Bentuk buah : Buah sejati tunggal
Warna kulit buah : Kerucut dengan 4 buah cangap di bagian ujung
Warna daging buah : Putih mengkilap
Rasa buah : Manis segar
Aroma buah : Lemah
Panjang buah : 4,3-6,2 cm
Diameter buah : 4,9-6,1 cm
Jumlah buah per tandan : 1-5 buah
Tangkai buah : 1,3-2,6 cm
Tekstur daging buah : Renyah
Kandungan air : 89,07%
Berat buah/buah : 65,5-100,7 g
Persentase daging buah : 95%
yang dapat dimakan
Jumlah biji : Tidak berbiji
Produksi per pohon/tahun : 300-800 kg
Buah jambu air camplong dengan rasa manis segar dan renyah.