http://Bisnis-madura.blogspot.com hadir dengan keyakinan bahwa Madura Punya segudang Bisnis. Jika anda pelaku bisnis atau punya informasi bisnis di Madura, anda dapat publikasikan di tempat ini. Kirimkan data yang anda miliki pada kolom di samping kanan, GRATIS!!

21/06/09

Produksi Petis Madura

MENEKUNI usaha pembuatan petis asli Madura sudah dilakoni keluarga besar Hj Diya sejak puluhan tahun silam. Kini, usaha yang sudah merambah hampir di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur ini dipimpin Daiman. Pria bergelar sarjana ekonomi ini ditahbiskan sebagai generasi penerusnya.

“Saya hanya penerus yang diberi kepercayaan oleh Ummi (Hj Diya, Red.), dan ini tanggung jawab saya untuk membesarkan usaha keluarga ini,” ujar Daiman.

Berbekal ilmu yang didapat dari orangtuanya tersebut, Daiman berusaha membuat usaha pembuatan petis miliknya makin sukses dan memiliki pangsa pasar yang lebih luas lagi. Tapi bukan hanya itu tujuan utamanya. Soal rasa yang khas juga menjadi perhatian untuk kelangsungan usahanya tersebut.

“Yang saya nomorsatukan adalah kepuasan konsumen dalam hal rasa. Sebab rasa itu mencerminkan kualitas usaha yang kita geluti saat ini,” terangnya.

Setidaknya, ada sekitar 30 jenis pilihan rasa yang ditawarkan oleh Daiman selama ini. Semua jenis rasa itu tidak lain adalah hasil racikan antara rasa asin yang dihasilkan oleh ikan dan manis yang dihasilkan oleh gula serta aroma petis yang dihasilkan oleh rempah - rempah sebagai bumbu campuran. “Diantaranya adalah petis asin, petis asin manis, petis manis pedas, dan asin manis yang ada dicampuri bumbu - bumbu khas,” terang Daiman.

Bahkan, baru - baru ini ia mulai meracik petis rasa baru yang cocok di lidah warga Jawa yang cenderung kurang menyukai rasa asin, layaknya petis khas Madura. “Kalau petis Madura sudah pasti tidak jauh - jauh dari rasa asin. Tapi kalau di lidah orang Jawa, rasa asin ini kurang cocok,” ujarnya.

Pada koran ini kemarin (28/2) Daiman mengajak untuk melihat secara langsung proses pembuatan petis di tempat usahanya tersebut. Sekitar 20 pekerja dilibatkan dalam proses pembuatan petis hingga proses pembungkusan petis dalam kemasan. “Sudah tiga tahun ini kita menggunakan teknologi modern pada proses pengentalannya. Sebab untuk menggunakan tenaga manusia, kita sangat kewalahan,” terang Daiman.

Sejak menggunakan alat - alat yang modern tersebut, praktis proses pembuatan petis lebih higienis dan cepat. Bahkan proses awal dari hasil kukusan ikan hingga proses pengentalan menjadi petis kini hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua hari. “Selain lebih bersih, kalau pakai alat modern jelas lebih cepat. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari 1 ton petis kita hasilkan,” ujarnya yang bisa menjual petis hingga dua kuintal dalam setiap harinya.

Maka jangan heran jika untuk bahan - bahan mentah pembuatan petis - seperti air hasil kukusan ikan pindang, ia memiliki suplier khusus. “Kalau mencari setiap hari, kita pasti akan kelabakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kita datangkan dari orang - orang tertentu,” ujar warga Desa Banyuanyar tersebut.

Kini, produksi petis yang dikenal dengan petis Hj Diya tersebut sudah merambah hampir di berbagai daerah. Bahkan, para TKW (tenaga kerja wanita) maupun TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di negara - negara besar di dunia selalu menyempatkan untuk membeli petis sebelum berangkat lagi ke negeri rantaunya masing - masing. “TKI dan TKW dari Malaysia dan Arab Saudi sudah banyak yang membeli petis kita sebelum kembali bekerja. Umumnya untuk bekal agar tetap mengingat daerah asal Madura,” terang Daiman. (sari purwati/ed)

Sumber : Jawa Pos / Senin, 02 Maret 2009

judul asli: Melihat Sentra Produksi Petis Madura di Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Kota Sampang

07/06/09

Jambu Air Camplong Buah Unggulan Sampang Madura

Tanaman jambu air camplong hanya ditemukan di daerah Sampang Madura pada pekarangan atau kebun. Tanaman ini mampu memberi penghasilan yang cukup, meski diusahakan dengan teknologi
budi daya yang sangat sederhana. Jika ditanam dengan teknologi budi daya yang lebih baik, dipastikan produksi buah jauh meningkat.

Adapun keterangan selengkapnya adalah sebagai berikut:

Asal : Desa Camplong (Sampang Madura)
Umur tanaman : 10 tahun
Tinggi tanaman : 10-12 m
Bentuk buah : Buah sejati tunggal
Warna kulit buah : Kerucut dengan 4 buah cangap di bagian ujung
Warna daging buah : Putih mengkilap
Rasa buah : Manis segar
Aroma buah : Lemah
Panjang buah : 4,3-6,2 cm
Diameter buah : 4,9-6,1 cm
Jumlah buah per tandan : 1-5 buah
Tangkai buah : 1,3-2,6 cm
Tekstur daging buah : Renyah
Kandungan air : 89,07%
Berat buah/buah : 65,5-100,7 g
Persentase daging buah : 95%
yang dapat dimakan
Jumlah biji : Tidak berbiji
Produksi per pohon/tahun : 300-800 kg
Buah jambu air camplong dengan rasa manis segar dan renyah.

05/06/09

Kerajinan Genteng

Industri kecil rumah tangga, maka di produksi genteng yang tidak kalau kuat dan bagus dari hasil genteng beton yang dibuat oleh pabrik yang ada di Surabaya, sehingga dapat merebut simpati masyarakat untuk memakai genteng dari Kabupaten Pamekasan dan untuk pemasarannya masih bersifat lokal di Madura.

Gula Siwalan

Industri kecil gula siwalan merupakan usaha home industri musiman, karena tergantung pada bahan bakunya. Rata-rata dalam satu tahun hanya 6 bulan bekerja. Keberadaan gula siwalan sangat terkait dengan industri-industri lainnya seperti bahan campuran lainnya (gula Jawa) karena kekhasan kadar kemanisannya khasiat lainnya. Produksi gula siwalan di Kabupaten Pamekasan masih bisa dikembangkan karena tanaman pohon siwalan cukup luas, hanya terhambat dengan teknik penyadapan legen dan pengolahannya yang memerlukan teknologi tepat guna.

Keripik Tette

Dengan mengutamakan citra rasa tersendiri renyah dan gurih dari ketela pohon yang dibuat keripik singkong yang digemari oleh masyarakat dimana ini merupakan hasil usaha industri kecil atau rumah tangga, dengan bahan baku singkong yang banyak ditanam masyarakat di musim kemarau. Untuk pemasarannya masih saja lokal khususnya di Madura atau merupakan sebagai oleh-oleh masyarakat yang berkunjung ke Pamekasan.

Sapi Potong

Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang kokoh di Kabupaten Pamekasan khususnya dititik beratkan sektor perindustrian dengan kaitannya pengolahan hasil-hasil produk dari komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan

Produk Batik Pamekasan

Batik tulis merupakan salah satu usaha kerajinan rakyat Madura yang telah membudidaya sejak lama, termasuk daerah Pamekasan yang telah memiliki kekhasan tersendiri pada batik-batik yang diproduksinya. Pada sentra-sentra batik ini di produksi batik dalam beberapa jenis dan motif, mulai dari sprei, kain panjang, sarung, baju, kaos dan lain-lain. Begitu juga bahan mori yang digunakan sangat bervariasi sesuai dengan permintaan dan kebutuhan segala lapisan masyarakat mulai dari bahan prima, polisima, primissima sampai sutera.

01/06/09

Links Bisnis Madura

Jika anda punya alamat atau link mengenai bisnis madura, silahkan informasikan ke kami di comment di bawah ini. Untuk link yang kami anggap sesuai, maka akan kami cantumkan di Bisnis Madura.

Mari kita berbagi, Karena Madura punya potensi.

Atas kesediaannya berbagi informasi, kami ucapkan terima kasih !!

Pesona Laba Batik Madura

Bicara Madura, orang pasti langsung teringat dengan karapan sapi dan satenya. Padahal ada kekayaan budaya asli Indonesia yang sudah terkenal ke beberapa penjuru dunia terdapat di pulau penghasil garam tersebut.

Batik Madura. Ya, meski seolah tidak jauh berbeda dengan batik asli Indonesia dari daerah lain seperti Cirebon, Yogya ataupun Solo, namun ada yang berbeda dari batik Madura.

Ciri khas dari Batik Madura adalah penggunaan warna dasar yang cerah dan beragam motif yang menggambarkan karakter masyarakat lokal.

"Warna yang dipakai dalam kain Batik Madura biasanya warna cerah, seringkali merah yang dipakai karena memiliki karakter warna yang keras dan kuat. Sama seperti karakter penduduknya," jelas Siti Maimona, pemilik dari Pesona Batik Madura.

Ia menyampaikan hal itu saat ditemui detikFinance dalam acara pameran Gerai Batik Nusantara di Plasa Pameran Industri, Departemen Perindustrian, Jakarta, Senin (8/92008).

Ciri khas lain yang dimiliki oleh Batik Madura adalah banyaknya garis yang terpampang dalam satu desain batiknya. Tiap desain batiknya pun memiliki kisah atau cerita masing-masing yang semuanya menggambarkan keseharian rakyat Madura.

Soal harga cukup bervariasi laiknya kain batik lain. Harga yang ditawarkan untuk satu helai kain Batik Madura sangat beragam. Mulai dari yang paling murah seharga Rp 100.000 hingga yang termahal seharga Rp 3,5 juta.

"Harga sangat tergantung dari tingkat kesulitan desain dan lamanya proses pembuatan
batik itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan, jangka waktu yang diperlukan untuk membuat satu buah Batik Madura berbeda-beda. Mulai dari enam bulan hingga satu tahun. Semakin lama waktu yang diperlukan untuk membuat batik tersebut maka harganya semakin mahal. Mengapa demikian, karena semakin lama proses produksinya maka warna yang dihasilkan akan semakin pekat.

Menurut wanita asli Madura ini, setiap Batik Madura dihasilkan setelah melewati beberapa tahap yang cukup panjang. Mulai dari perendaman kain di dalam air bercampur minyak, kemudian dicuci dan diberi kanji, lalu pewarnaan dan terakhir dijemur di bawah panas matahari.

Siti merupakan generasi keempat dari pengrajin batik asal Madura. Keluarganya mulai merintis bisnis ini sejak tahun 1950.

"Sempat vakum juga ketika memasuki generasi ketiga. Saya sendiri mulai berkonsentrasi di bisnis ini sejak tahun 1996 lalu," ujar wanita yang murah senyum ini.

Usaha keluarganya ia bangun kembali dengan modal minim serta jumlah pengrajin batik yang tidak bisa dibilang banyak.

"Saya memulai kembali usaha keluarga ini dengan bermodalkan uang Rp 5 juta dan hanya 6 pengrajin batik," imbuhnya.

Agar tidak terlihat monoton dan bisa berkembang lebih jauh lagi, Ia mencoba melakukan beberapa inovasi dalam kain batiknya. Salah satu yang Ia dan karyawannya lakukan adalah dengan cara melakukan reproduksi desain kain batik lama digabung dengan sentuhan dari desain masa kini.

"Saya mulai belajar untuk melakukan kombinasi dalam desainnya," tuturnya.

Hasilnya sungguh diluar dugaan. Penjualan Batik Madura miliknya tidak hanya dikonsumsi oleh penggemar batik dalam negeri tetapi juga hingga ke luar negeri. Bahkan ia mengaku, konsumen luar negeri lebih banyak dibandingkan konsumen domestik.

Ia pun sudah beberapa kali mengikuti pameran berskala internasional, seperti di Italia, Cina dan Jepang. "Animo masyarakat Jepang akan batik dari Indonesia cukup tinggi," kata Siti.

Kini, usaha Batik Madura milik Siti sudah sangat berkembang. Jumlah pengrajin batik yang berada di bawah benderanya pun membengkak hingga 96 orang. Dalam setahun, Ia mengaku bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 2 miliar.

Menurutnya, jumlah pendapatannya masih bisa melonjak jika melirik trend batik sedang melanda tanah air dewasa ini. "Sudah satu tahun terakhir ini ada peningkatan pendapatan. Tahun ini sepertinya bisa jauh lebih bagus lagi," pungkasnya.